Top News

Keterampilan Jadi Modal Baru, Warga Binaan Lapas Kediri Jalani Sertifikasi Profesi

WBP Lapas Kediri menjalani praktek barbershop-photo by memorandum co.id




KEDIRI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri terus memperkuat program pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP). Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar uji kompetensi keterampilan barbershop yang diikuti oleh 20 warga binaan di Aula Jayabaya Lapas Kediri.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah menyelesaikan masa pidana dan kembali ke tengah masyarakat.

Uji kompetensi ini menjadi tahapan lanjutan setelah para peserta mengikuti pelatihan keterampilan barbershop yang sebelumnya telah diberikan oleh instruktur profesional. Melalui proses sertifikasi tersebut, warga binaan tidak hanya diuji kemampuan praktiknya, tetapi juga berkesempatan memperoleh sertifikat kompetensi resmi yang dapat digunakan sebagai pendukung saat mencari pekerjaan maupun membuka usaha secara mandiri.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Permata Hati, Tri Yunita Sari, Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF), Sulthon Arfiansyah, serta penguji dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Paras, Susyani.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Binadik) Lapas Kediri, Bambang Setiyawan, mengatakan bahwa program pembinaan yang dilaksanakan saat ini diarahkan agar mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi warga binaan.

Menurutnya, pembinaan di dalam lapas tidak hanya sebatas aktivitas untuk mengisi waktu selama menjalani masa pidana, melainkan harus mampu menciptakan keterampilan yang dapat digunakan sebagai bekal hidup setelah bebas.

“Pembinaan kemandirian harus memiliki output yang jelas. Melalui pelatihan dan uji kompetensi barbershop ini, kami berharap warga binaan memiliki kemampuan yang bisa dimanfaatkan untuk bekerja maupun membuka usaha sendiri ketika kembali ke masyarakat,” ujar Bambang, Selasa (23/6/2026).

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Dinas Pendidikan. Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF, Sulthon Arfiansyah, menilai usaha barbershop saat ini menjadi salah satu sektor jasa yang terus berkembang dan memiliki prospek menjanjikan.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap jasa pangkas rambut modern terus meningkat, sehingga keterampilan tersebut dapat menjadi peluang usaha yang potensial bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa pembinaannya.

“Keterampilan barbershop memiliki peluang pasar yang cukup besar. Dengan adanya sertifikasi kompetensi, warga binaan memiliki nilai tambah yang dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka saat mencari pekerjaan atau memulai usaha sendiri. Kami berharap ilmu dan sertifikat yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk membangun masa depan yang lebih baik,” ungkap Sulthon.

Dalam pelaksanaan uji kompetensi, peserta diwajibkan melalui sejumlah tahapan penilaian yang cukup ketat. Proses dimulai dari verifikasi dan pengisian administrasi peserta, dilanjutkan dengan pembekalan materi dasar, tes wawancara, hingga praktik langsung di hadapan asesor.

Penilaian mencakup berbagai aspek, mulai dari pengetahuan dasar mengenai dunia barbershop, pemahaman penggunaan alat kerja, penerapan standar kebersihan dan keselamatan kerja, hingga kemampuan teknik pemotongan rambut sesuai standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Kediri, Gatot Tri Rahardjo, menegaskan bahwa pihaknya akan terus menghadirkan program-program pembinaan yang produktif, terukur, dan memiliki dampak nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia warga binaan.

Ia menilai keberhasilan proses pemasyarakatan tidak hanya diukur dari selesainya masa pidana seseorang, tetapi juga dari kesiapan mereka untuk kembali menjalani kehidupan secara mandiri, produktif, dan diterima oleh masyarakat.

“Kami berkomitmen menghadirkan program pembinaan yang benar-benar memberikan manfaat dan keterampilan praktis bagi warga binaan. Melalui uji kompetensi ini, kami ingin memastikan mereka memiliki bekal yang cukup untuk memulai kehidupan baru setelah bebas, sehingga mampu menjadi pribadi yang mandiri, produktif, dan berkontribusi positif di tengah masyarakat,” tegas Gatot.

Program pembinaan berbasis keterampilan seperti barbershop ini diharapkan menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan, sekaligus menekan angka residivisme melalui peningkatan kemampuan kerja dan kemandirian ekonomi setelah mereka kembali ke lingkungan masyarakat.(red/lis)

Post a Comment

Previous Post Next Post