KEDIRI- Masyarakat Desa Kandangan, Kecamatan Kandangan, kembali melaksanakan tradisi budaya mendhem golekan pada Jumat pagi (19/6). Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur tersebut digelar sebagai bentuk penyambutan datangnya bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Selain menjadi bagian dari pelestarian budaya lokal, ritual ini juga dimaknai sebagai doa bersama agar seluruh warga diberikan keselamatan, ketenteraman, kesejahteraan, dan dijauhkan dari berbagai bencana maupun marabahaya.
Prosesi ritual dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dari Kantor Desa Kandangan. Kepala desa beserta perangkat desa yang mengenakan pakaian adat Jawa memimpin arak-arakan dua buah golekan mengelilingi wilayah desa. Kirab tersebut menempuh jarak kurang lebih tiga kilometer dan menjadi pusat perhatian warga yang menyaksikan di sepanjang rute perjalanan.
Setelah prosesi kirab selesai, kedua golekan kemudian dibawa menuju lokasi yang telah ditentukan untuk ditanam. Golekan berjenis laki-laki ditanam di wilayah Dusun Kandangan Krajan, sementara golekan perempuan ditanam di area perempatan Pasar Kandangan. Kedua lokasi tersebut memiliki nilai historis dan telah digunakan secara konsisten sejak tradisi ini dilaksanakan oleh generasi-generasi sebelumnya.
Kepala Desa Kandangan, Hendro Misdiono Susilo, menjelaskan bahwa mendhem golekan merupakan salah satu warisan budaya leluhur yang hingga kini masih dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat. Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial tahunan, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam sebagai sarana memohon perlindungan dan keselamatan bagi seluruh warga desa.
“Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Sebagai generasi penerus, kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya. Harapannya, seluruh masyarakat Kandangan senantiasa diberikan keselamatan, dijauhkan dari bala, serta memperoleh kehidupan yang tenteram dan sejahtera,” ujarnya.
Hendro menjelaskan bahwa golekan yang digunakan dalam ritual dibuat menyerupai sosok bayi manusia dengan ukuran sekitar 30 sentimeter. Bahan utamanya berasal dari tepung ketan yang dibentuk secara detail hingga menyerupai tubuh manusia lengkap dengan mata, hidung, tangan, dan bagian tubuh lainnya.
Proses pembuatan golekan juga dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan mengikuti tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pembuat golekan diwajibkan menjalani puasa terlebih dahulu sebagai bentuk laku spiritual sebelum membuat simbol ritual tersebut. Tahapan ini dipercaya sebagai bagian penting dalam menjaga kesakralan prosesi.
Sebelum dikuburkan, golekan terlebih dahulu menjalani prosesi penyembelihan simbolis. Dari dalam golekan akan keluar cairan berwarna merah yang dibuat dari campuran gula merah dan beberapa bahan khusus lainnya sehingga menyerupai darah. Simbol tersebut melambangkan pengorbanan dan harapan agar segala bentuk kesialan, penyakit, maupun ancaman dapat dijauhkan dari kehidupan masyarakat.
“Golekan merupakan simbol pengorbanan dalam tradisi ini. Semua bahan yang digunakan dipilih secara khusus dan tidak dibuat secara sembarangan karena memiliki makna tersendiri,” jelas Hendro.
Ia juga menambahkan bahwa lokasi penanaman golekan tidak pernah mengalami perubahan sejak dahulu. Bahkan, di kawasan perempatan Pasar Kandangan terdapat bagian jalan yang sengaja tidak diaspal agar tetap dapat digunakan sebagai tempat pelaksanaan ritual setiap tahunnya. Hal tersebut menunjukkan komitmen masyarakat dalam menjaga keberlanjutan tradisi yang telah menjadi identitas budaya desa.
Pada tahun ini, pelaksanaan mendhem golekan berlangsung lebih sederhana dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya kirab budaya melibatkan partisipasi masyarakat secara luas, termasuk pelajar dan berbagai elemen warga, kali ini peserta kirab dibatasi hanya untuk perangkat desa, kader masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), serta warga yang secara sukarela ingin mengikuti prosesi.
Menurut Hendro, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas serta efisiensi pelaksanaan kegiatan. Meski demikian, penyederhanaan acara tidak mengurangi makna maupun kekhidmatan ritual yang tetap berlangsung sesuai tradisi.
“Biasanya kirab budaya lebih besar dan melibatkan banyak peserta. Namun tahun ini kami menyesuaikan dengan kondisi yang ada sehingga pelaksanaannya dibuat lebih sederhana,” katanya.
Walaupun tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, antusiasme masyarakat untuk menyaksikan ritual tetap tinggi. Sejumlah warga tampak memadati beberapa titik yang menjadi lokasi arak-arakan maupun prosesi penanaman golekan.
Salah seorang warga, Saliah (60), mengaku selalu menyempatkan diri hadir setiap tahun untuk menyaksikan tradisi tersebut. Baginya, mendhem golekan bukan sekadar tontonan budaya, melainkan bagian dari warisan leluhur yang perlu dijaga dan dihormati.
“Saya senang melihat tradisi ini karena sudah ada sejak zaman orang tua dulu. Harapannya masyarakat selalu diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala bahaya,” tuturnya.
Tradisi mendhem golekan menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya lokal masih hidup dan terus dipertahankan oleh masyarakat Desa Kandangan. Di tengah perkembangan zaman, ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian tradisi, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah membentuk identitas masyarakat setempat selama bertahun-tahun.(red/lisa)
Post a Comment